Tampilkan postingan dengan label Tausyiah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tausyiah. Tampilkan semua postingan
Selasa, 10 September 2013
Bau Nafas Puasa Kita
Oleh: Mohammad Fauzil Adhim
Adakah puasa kita membawa kepada taqwa? Ataukah hanya berpindahnya jadwal makan dan minum saja? Adakah puasa kita mengendalikan hasrat kepada dunia, meski kita mampu memenuhinya secara halal? Ataukah sekedar menunda hasrat? Adakah puasa kita menggugurkan dosa-dosa? Ataukah hanya mendatangkan lapar dan dahaga? Tak ada yang bernilai dari puasa kita?
Adakah bau nafas kita seumpama misik terbaik karena puasa sepenuh iman dan ittiba' kepada Nabi? Atau nilainya lebih busuk daripada bangkai karena hanya menahan diri dari makan minum, tapi tak henti menggunjing kanan kiri?
Mari sejenak kita merenungi hadis Nabi shallaLlahu 'alaihi wa sallam sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabrani:
"رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ"
“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Thabrani).
Adakah yang puasanya tak bernilai sama sekali itu kita? Betapa banyak yang merasa bangga dengan puasanya, padahal ia tak menyempurnakannya. Betapa banyak yang merasa telah gugur dosa-dosanya bersebab puasa padahal ia tak meninggalkan perkara yang menjadikan puasanya sia-sia.
Mari sejenak kita renungi sabda Nabi shallaLlahu 'alaihi wa sallam:
"مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ"
“Barangsiapa tidak tinggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR Bukhari).
Senin, 09 September 2013
Rumah Sejati Kita
Rumah Sejati Kita
oleh Salim A. Fillah dalam Rajutan Makna. 11/06/2013
وَالأَصْلُ فِي الْمَبْنِيِّ أَنْ يُسَكَّنَاAsal dalam kemabnian ialah dihukumi sukun.Ibn Malik Al Andalusy, Alfiyah: Bait XXI
Ketika Jamaluddin ibn ‘Abdillah ibn
Malik Ath Thay menyusun seribu bait syair menyejarahnya, tujuan beliau
adalah untuk menghimpun semua Kaidah Nahwu (Tata-Susun) dan Sharaf
(Tata-Bentuk) Bahasa Arab; menjelaskan berbagai kerumitan dengan bahasa
yang ringkas, padat, dan indah; serta membuat pelajaran Lughah ini menjadi asyik dan menarik.
Tetapi sebagaimana “Adab” yang dapat
berarti “Sastra” menjadi kata dasar bagi “Peradaban”, maka Alfiyah Ibnu
Malik yang penuh berkah hingga disyarah lebih dari 40 ‘Ulama itu tak
hanya sekedar menjadi kaidah berbahasa, melainkan juga kaidah
berperadaban.
Di antara hal itu, kita kutip secuplik dari Bab Mu’rab dan Mabni di awal tulisan ini. Kutipan “Wal ashlu fil mabniyyi an yusakkana”
bermakna bahwa bentuk asli dari Mabni adalah tersukun pada akhir
kalimah, sebab ia merupakan syakal yang paling ringan. Oleh karena itu
ia bisa masuk pada Kalimah Isim, Fi’il, maupun Harf.
Bukan di sini agaknya tempat
berkerut-dahi dengan kaidah berbahasa. Izinkan kami meloncat ke
pemaknaannya bagi hidup keseharian kita, bahwa dengan sedikit mengubah
harakatnya kita akan membaca kaidah ini teterjemahkan sebagai, “Asal
dalam bangunan adalah agar ia ditempati.”
Maka sungguh benar; ketika manusia hari
ini membangun rumah, istana, dan gedung bukan untuk ditempati melainkan
sebagai investasi, ia menjadi bencana tak cuma di akhirat, tapi telah
tercicip kerusakan sejak di dunia. Tak ada ahli ekonomi yang menyangkal
bahwa krisis ekonomi 1997 terpicu dari soal properti di Korea dan
Thailand, lalu ada subprime morgage di Amerika, hingga Burj
Dubai dan kredit hipotek di Eropa. Semua terjadi karena manusia tak lagi
menghayati “Asal dalam bangunan adalah agar ia ditempati.”
Para pendahulu kita yang shalih bukan
hanya mentaati kaidah ini. Bahkan terhadap rumah yang benar-benar
ditempati , tak lepas hati mereka dari was-was bahwa kediaman perehatan
di dunia yang sementara itu akan melalaikan dari kampung akhirat yang
abadi. Di hati mereka terus berdengung ayatNya, “Bermegah-megahan telah
melalaikan kalian.”
“Aku tak suka memperindah rumahku
kecuali sekadar memuliakan tamu”, ujar ‘Abdullah ibn ‘Umar suatu kali,
“Sebab ia membuatku mencintai dunia, melalaikan akhirat, memberatkan
langkah ke Masjid, dan memalaskan jiwa dari jihad fi sabiliLlah.”
Imam Ath Thabrani mengetengahkan riwayat dari Abu Juhaifah, bahwa RasuluLlah ShallaLlahu ‘Alaihi wa Sallam
bersabda, “Dunia akan dibukakan kepada kalian, hingga kalian menghiasi
rumah sebagaimana Ka’bah dihias. Kalian pada hari ini lebih baik
dibandingkan pada hari itu.” Syaikh Al Albani mengesahkan hadits ini
dalam Shahih Al Jami’, no 3614.
Langganan:
Postingan (Atom)

